Dwimariatush’s Weblog

September 17, 2008

Goa Selomangkleng

Filed under: Uncategorized — dwimariatush @ 3:43 am

Di kawasan wisata Selomangleng yang terletak sekitar 3 kilometer dari pusat Kota Kediri ini selain terdapat wahana wisata juga terdapat sebuah goa yang dianggap sebagai petilasan atau tempat pertapaan Dewi Kilisuci. Konon di sinilah Putri Kediri ini menghabiskan sisa hidupnya untuk bertapa, meminta kepada Yang Kuasa agar rakyat Kediri senantiasa terhindar dari marabahaya. Ia pun juga rela mengorbankan hidupnya untuk tidak menikah demi masyarakat Kota Kediri.Tak heran jika itu selama ini masyarakat Kediri mengkeramatkan Goa Selomangleng sebagai tempat suci, karena itu bagi pasangan yang masih pacaran dipantangkan pergi ke Selomangleng apalagi sampai masuk ke dalam goa, karena dipastikan hubungan yang terbina akan putus di tengah jalan.

Goa Selomangleng sendiri sebenarnya tidaklah terlalu besar. Hanya berupa cekungan di dalam batu yang luasnya sekitar 4 meteran. Goa Selomangleng terbagi menjadi dua ruangan, sementara di dindingnya terdapat beberapa relief. Ruangan pertama seolah-olah seperti sebuah ruang tamu sedang ruang satunya seperti sebuah kamar dimana terdapat sebuah batu besar yang berbentuk kotak persegi panjang yang seolah seperti sebuah paseban atau tempat untuk istrirahat. Sedang di sebelahnya lagi terdapat batu berbentuk layaknya sebuah kursi, dan kemungkinan di sinilah Kilisuci melakukan semedinya.

Tersebutlah pada jaman dahulu di Kediri bertahta seorang raja bernama Djojoamiluhur. Di dalam masa pemerintahannya Kerajaan Kediri mengalami kejayaan, penduduknya hidup layak dan negaranya aman. Dalam melaksanakan pemerintahannya sehari-hari Sang Raja dibantu oleh tiga orang yang dipercaya, masing-masing bernama Tunggulwulung, Butolocoyo dan seorang Panembahan Sakti yang bernama Empu Baradah atau yang terkenal dengan sebutan Mbah Pradah. Sang Raja Djojoamiluhur dikaruniai tiga orang anak, yaitu seorang putri yang sangat cantik bernama Dewi Kilisuci dan dua orang putra yang rupawan bernama Djojoamiseso dan Djojoamiseno.

Pada saat Sang Dewi menginjak dewasa, banyak raja-raja dari daerah lain yang ingin mempersuntingnya. Hal ini membuat sang raja sulit untuk menentukan salah satu dari sekian banyak pelamar Sang Dewi. Maka akhirnya untuk menjaga keamanan, ketentraman serta ketenangan rakyat di Kerajaan Kediri, sang raja mengadakan sayembara perang tanding. Bagi siapa saja yang menang dalam perang tanding natinya, dialah yang akan diterima dan dijadikan suami Dewi Kilisuci. Namun dalam kenyataannya dalam sayembara tersebut dimenangkan oleh seorang raja yang berparas jelek yang berasal dari pesisir timur daerah Banyuwangi, wajahnya hampir menyerupai muka kerbau dan kepalanya bertanduk, sehingga sesuai dengan bentuknya ia mendapat sebutan Djotosuro.

Begitu mengetahui bahwa pemenang sayembara perang tanding adalah Djotosuro yang berparas jelek, Dewi Kilisuci sangat sedih dan tidak mau dipersunting oleh Djotosuro. Untuk menolak lamaran Djotosuro secara langsung Kilisuci tidak berani, maka ia pun menggunakan siasat untuk menolak lamaran Djotosuro. Caranya Kilisuci mempunyai permintaan agar dibuatkan sumur di atas puncak Gunung Kelud yang kedalaman sumurnya diukur dengan ukuran suara. Apabila dalam menggali sumur tersebut Djotosuro dipanggil dari luar sudah tidak mendengar suara orang yang memanggil, maka sang dewi baru mau menerima lamarannya dan mau dijadikan istri. Betapapun beratnya permintaan Kilisuci tersebut, Djotosuro tetap menyanggupi demi dapatnya menikah dengan sang pujaan hati.

sumber : www.kotakediri.go.id

Hello world!

Filed under: Uncategorized — dwimariatush @ 3:18 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Tema: Banana Smoothie. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.